Di Rok-nya

Suatu ketika Bapak Pendeta sudah bersiap-siap untuk memberkati seorang bayi. Bayi itu sudah berada dalam gendongannya, dan di hadapannya telah berdiri kedua orangtua si bayi. Tetapi, tiba-tiba ia lupa nama bayi tersebut. Ia lalu berbisik kepada ayah bayi tersebut, menanyakan nama anaknya.

Si bapak kembali berbisik, “Di roknya.”

Bapak Pendeta tertegun sebentar. Ia merasakan bahwa nama itu agak aneh. Tetapi, pasangan-pasangan muda masa kini memang sering memberi nama bayinya dengan nama-nama yang menurutnya aneh. Karena itu, ia tetap meneruskan upacara penyerahan bayi tersebut.

Bapak Pendeta lalu menumpangkan tangan di kepaa bayi itu sambil lberdoa seraya menyebut nama bayi itu, “Diroknya”. Namun, dilihatnya betapa terkejut kedua orangtua si bayi. Dan, ketika kebaktian telah selesai, ia menjadi lebih terkejut lagi melihat ibu si bayi menangis tersedu-sedu. Ibu itu menuduh Bapak Pendeta telah mempermainkan mereka, dengan memberi nama yang aneh seperti itu.

“Tetapi, kata suami Anda itulah namanya,” sahut Bapak Pendeta.
“Saya  tidak bilang begitu,” balas si ayah, seraya menunjukkan secarik kertas yang disematkan di rok bayi itu. “Maksud saya, namanya ada di roknya.”

Nama bayi itu ternyata Elizabet.

Bertanyalah selalu. Adakah cara yang lebih baik?

(Diambil dari : Setetes Embun Bagi Jiwa, Timotius Adi Tan)

Respond to this post