Aku Pernah ke Neraka

Aku ketik kembali sebuah kesaksian dari Kenneth E Hagin di dalam bukunya yang berjudul Aku pernah ke Neraka.

***

BAB I

ANGGOTA GEREJA YANG

PERGI KE NERAKA

Aku dilahirkan dan dibesarkan dalam salah satu denominasi gerja. Semula aku berpikir Tuhan Yesus Kristus dan semua muridNya juga berasal dari denominasi gerejaku. Sungguh mengejutkan ketika, akhirnya, aku mengetahui bahwa mereka tidak berasal dari gereja di mana aku berada.

Suatu hari ketika aku sedang membaca Alkitab, aku mengambil kesimpulan bahwa Paulus bukan berasal dari gereja dimana aku berada, karena dia berkata, “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh …” (I Kor 14:18). Aku tidak pernah mendengar orang dari denominasi gerjaku berkata-kata dengan bahasa roh!

Karena dilahirkan dan dibesarkan dalam gereja tersebut, aku merasa kasihan terhadap setiap orang yang bukan berasal dari denominasi gerejaku. Tetapi, dengarlah, kawan, Anda dapat menjadi seorang anggota gereja dan tidak menjadi orang Kristen.

Walaupun Anda adalah anggota dari sebuah gereja dan Anda menghadiri kebaktian hari minggu, hal ini tidak akan menyelamatkan Anda atau menjadikan Anda orang Kristen; sama halnya dengan pergi ke kandang sapi tidak akan membuat Anda menjadi seekor sapi! Menjadi anggota dari sebuah gereja tidak akan menjadikan Anda orang Kristen; seperti juga menjadi anggota dari sebuah klub olahraga tidak akan menjadikan Anda orang Kristen. Anda harus dilahirkan kembali.

Terlalu banyak orang yang berpikir bahwa mereka adalah orang Kristen, hanya karena mereka adalah anggota dari sebuah gereja.

Aku menjadi anggota suatau denominasi gereja pada waktu berusia 9 tahun. Alasanku untuk menjadi anggota gereja karena guru sekolah minggu berkata kepada semua anak sekolah minggu demikian, “Berapa banyak dari kalian yang ingin pergi ke sorga ?” Tentu saja, kami semua ingin pergi ke sorga. Lalu guru itu berkata, “Apabila Bapak Pendeta memberikan suatu tantangan kepada kalian pagi hari ini, kalian semua harus maju ke depan mimbar.”

Karena kami ingin pergi ke sorga, beberapa dari antara kami maju ke depan mimbar ketika tantangan itu deiberikan oleh Bapak Pendeta. Kemudian kami menjadi anggota gereja dan menerima baptisan air. Dan sejak saat itu, aku berpikir bahwa aku telah menjadi orang Kristen.

Beberapa waktu kemudian, ketika menghadiri kebaktian kebangunan rohani yang diadakan di gereja, Roh Allah mulai mengingatkan aku tentang keselamatan. Namun, aku berkata kepada diri sendiri, “Aku sudah diselamatkan. Aku telah menjadi anggota gereja. Aku juga telah menerima baptisan air. Aku sudah menjadi orang Kristen.

Aku dilahirkan prematur (sebelum waktunya) dan memiliki kelainan jantung. Aku dilahirkan dengan berat badan kurang dari dua pon (1 pon = 0,5 kg). Pada waktu itu, 75 tahun yang lalu, rumah sakit bersalin tidak memiliki inkubator untuk meletakkan bayi-bayi yang lahir prematur; jadi, kemungkinanku untuk hidup adalah nol. Namun akhirnya, aku mampu bertahan untuk hidup. Tetapi aku tidak dapat lari dan bermain-main seperti kebanyakan anak-anak kecil lainnya. Aku tidak memiliki kehidupan masa kecil yang normal.

Ketika berusia 15 tahun, aku tidak dapat bangun dari tempat tidur sama sekali. Lima orang dokter mengatakan aku akan meninggal; tidak ada harapan lagi bagiku untuk hidup. Tetapi pada waktu itulah, di temat aku terbaring tanpa daya, aku dilahirkan kembali pada tanggal 22 April 1933 di kamar tidur yang menghadap bagian selatan di N. College Street 405, McKinney, Texas. Saat itu menunjukkan pukul 19.40 hari Sabtu malam.

Di dalam kamar tidur itu terdapat tempat perapian. Kakek mempunyai sebuah jam yang diletakkan di dalam mantelnya. Ibu, nenek dan adikku yang paling kecil, Pat, sedang duduk di dalam kamar menemaniku karena keadaanku yang semakin memburuk. Dokter telah dipanggil melalui telepon.

Ketika jam kakek menunjukkan pukul 19.30 jantungku berhenti berdetak. Dan aku dapat merasakan, lebih cepat daripada Anda membunyikan jari-jari Anda, darah berhenti mengalir mulai dari bagian bawah pada ujung jari-jari kakiku. Keadaan mati rasa ini kemudian menyebar ke kaki, pergelangan kaki, lutut, paha, perut. Jantungku - dan, tiba-tiba, aku melompat keluar dari tubuhku.

Aku tidak kehilangan kesadaran; aku melompat keluar dari tubuhku bagaikan seorang penyelam melompat dari papan loncatan ke dalam kolam renang. Aku mengetehaui bahwa aku berada di luar tubuhku. Aku dapat melihat keluargaku di ruang kamar itu, tetapi aku tidak dapat berkomunikasi dengan mereka.

Aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepada ibu, nenek dan adikku yang kecil, tetapi aku telah melompat keluar dari tubuhku sebelum sempat mengucapkan sepatah katapun kepada mereka.

Aku mulai turun ke bawah – ke dalam sebuah lubang, seperti halnya bila Anda turun ke dalam sebuah sumur, lubang yang besar di bawah tanah, atau masuk ke dalam gua. Aku tidak menyadari bahwa suaraku masih dapat didengar oleh mereka.

Ketika aku berusaha untuk mengucapkan selamat tinggal, aku mengetahui bahwa aku sedang menuju ke lubang itu. Tiga orang anggota keluargaku yang ada di dalam kamar bercerita beberapa waktu kemudian, “Ketika engkau mengucapkan selamat tinggal, suaramu bergema seolah-olah engkau sedang berada di dalam gua atau lubang yang besar atau yang sejenis itu.”

Dan aku terus turun ke bawah. Aku turun dengan keadaan kaki di bawah – turun ke bawah. Aku masih dapat melihat terang yang ada di bumi.

Akhirnya, terang itu berangsur-angsur hilang. Kegelapan mulai mengelilingi aku – kegelapan yang lebih pekat daripada kegelapan malam yang pernah dilihat oleh manusia.

Mungkin apabila Anda memegang pisau, Anda dapat memotong segumpal kegelapan itu. Anda bahkan tidak dapat melihat tangan Anda, walaupun berada suatu inci di depan hidung Anda.

Semakin dalam aku turun, semakin gelap keadaan di sekitarnya – dan terasa semakin panas- sampai akhirnya, tepat di bawahku, pijar-pijar cahaya nampak terlihat pada dinding kegelapan. Dan aku sampai di dasar lubang itu. Hal ini terjadi lebih dari 60 tahun yang lalu, tetapi masih nampak begitu jelas seolah-olah baru seminggu yang lalu aku mengalaminya. Sesungguhnya, hal-hal rohani tidak pernah menjadi pudar.

Ketika sampai di dasar lubang itu, aku dapat melihat apa yang menyebabkan pijar-pijar cahaya itu nampak pada dinding kegelapan. Jauh di depanku, melewati pintu gerbang atau jalan masuk ke neraka, aku melihat nyala api berwarna oranye yang begitu besar dan bagian puncaknya berwarna putih.

Aku ditarik menuju ke neraka bagaikan sebuah magnit yang menarik logam. Aku mengethaui bahwa setelah melewati pintu gerbang itu, aku tidak akan dapat keluar kembali. Aku berusaha untuk memperlambat gerakanku, karena ketika aku berada di dasar lubang itu, aku masih dapat melihat sesuatu yang ada di bawahnya.

Aku sadar akan kenyataan bahwa sejenis makhluk hidupmenemui aku di dasar lubang itu. Aku tidak memperhatikannya. Tatapanku terpaku pada pintu gerbang, tetapi aku menyadari bahwa ada makhluk hidup berdiri di samping kananku.

Beberapa tahun kemudian, aku menemukan kenyataan ini di dalam kitab Yesaya yang berbunyi: “Sunia orang mati yang di bawah gemetar untuk menyongsong kedatanganmu, dijagakannya arwah-arwah bagimu … “ (Yes 14:9)

Ketika aku berusaha untuk memperlambat gerakanku, makhluk itu memegang tanganku untuk mengantarkan aku masuk ke dalam pintu gerbang itu. Namun, tiba-tiba suatu suara muncul dari kegelapan yang begitu pekat. Suaranya terdenar seperti suara pria, tetapi aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Aku tidak tahu apakah itu suara Allah, Yesus, malaikat atau pribadi yang lain. Dia tidak berbicara dalam bahasa Inggris, tetapi dalam bahasa yang asing.

Tempat di sekitarnya bergoncang saat suara itu terdengar! Dan makhluk itu melepaskan pegangannya pada tanganku. Ada suatu kuasa seperti penyedot di bagian belakangku yang kemudian menarik aku kembali ke atas. Aku terapung-apung menjauh dari pintu gerbang neraka. Kemudian, bagaikan adanya penyedot dari atas, aku terapung naik ke atas menembus kegelapan dengan kepalaku di bagian atas.

Sebelum mencapai puncaknya, aku telah dapat melihat terang itu kembali. Aku telah berada di dalam sebuah sumur; sama halnya ketika Anda berada di dalam sebuah sumur dan Anda dapat melihat terang itu ada di atas Anda.

Aku muncul kembali dan berada di serambi rumah kakekku. Kami tinggal di dalam sebuah rumah yang bergaya Texas kuno dimana serambi mengelilingi di sekitar rumah.

Aku muncul di bagian selatan rumah itu. Aku dapat melihat ayunan di serambi dan pohon cedar yang besar di halaman rumah itu. Hanya untuk sesaat aku berdiri di serambi itu.

Kemudian aku pergi melalui dinding – bukan melalui pintu, dan bukan melalui jendela – tetapi melalui dinding, dan melompat masuk ke dalam tubuhku bagaikan seseorang yang memasukkan kaki ke dalam sepatunya. Sebelum aku melompat ke dalam tubuhku, aku dapat melihat nenekku duduk di samping ranjang sambil memegang lenganku. Ketika akhirnya aku masuk ke dalam tubuhku, aku dapat berkomunikasi dengan nenekku.

Aku berkata kepadanya – dan aku tidak tahu bagaimana aku mengetahuinya – “Nenek, aku akan pergi lagi, dan aku tidak akan kembali lagi.”

“Cucuku, aku kira kamu tidak akan kembali lagi waktu itu!” sahut nenek.

“Nenek, dimanakah ibu?” tanyaku. “Aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya.”

“Cucuku, aku memberitahukan ibumu bahwa kamu sudah pergi, dan dia cepat-cepat keluar kamar; dia sedang berdoa, “ jawabnya.

Dan kemudian aku mendengar suara ibu. Dia berada di sudut rumah. Dia baru saja kembali dari serambi, berdoa dengan suara yang keras.

Banyak orang di kemudian hari bercerita bahwa mereka dapat mendengar ibuku menangis sambil berdoa sampai beberapa blok jauhnya.

Ketika aku berkata, “Aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya,” nenek berusaha memanggil dia; “Lillie!”, tetapi ibu tidak dapat mendengarnya, karena ibu sedang berdoa dengan suara yang sangat keras.

Jika Anda tidak siap untuk pergi, Anda pasti menginginkan seseorang untuk bersama dengan Anda. Anda merasa takut! Lalu aku berakta, “Nenek, jangan tinggalkan aku! Aku takut; aku akan pergi ketika nenek juga pergi! Aku ingin seseorang berada bersamaku! Jangan tinggalkan aku!” Dan, kemudian, nenek membawa aku ke dalam pelukannya kembali.

Lalu aku berkata, “Katakan selamat tinggal pada ibu. Katakan padanya bahwa aku sangat mengasihinya. Katakan juga padanya bahwa aku senang sekali tinggal bersama dengan dia. (Ayahku meninggalkan kami pada waktu aku berusia 6 tahun, dan ibu ditinggalkan bersama 4 orang anaknya yang masih kecil. Melalui semua penderitaan yang harus dialami dan karena ia baru saja menjadi orang Kristen, ibu tidak mengerti bagaimana mencurahkan semua bebannya di hadapan Tuhan. Akhirnya, ibu mengalami gangguan jiwa dan gangguan fisik yang cukup berat).

“Katakan kepada ibu bahwa aku sangat menghargai segala sesuatu yang telah dia lakukan untukku dan untuk kami semua. Katakan juga kepadanya bahwa apabila aku pernah membuat kerutan di wajahnya atay membuat rambutnya menjadi putih, aku sangat menyesal. Aku minta agar ibu mau memaafkan aku.”

Aku merasa nyawaku akan segera berlalu. Aku berkata,”Nenek, aku akan pergi sekarang. Engkau telah menjadi ibu kedua bagiku ketika kesehatan ibu terganggu.”

Kami empat bersaudara diasuh oleh kaum keluarga yang berbeda-beda ketika ibu menderita sakit. Aku diasuh oleh nenekku dari pihak ibu. Nenekku biasa memanggil aku dengan “my boy,” dan dia selalu berkata, “Cium aku di sini - cium aku di sini.”

Lalu aku mencium pipinya dan mengucapkan selamat tinggal. Jantungku berhenti untuk kedua kalinya. Masih nampak jelas peristiwa ini bagiku walaupun lebih dari setengah abad waktu telah beralalu.

Aku dapat merasakan darah berhenti mengalir. Ujung jari-jari kakiku mati rasa – kemudian menyebar ke kaki, pergelangan kaki, lutut, paha, perut dan jantung. Aku mulai melompat keluar dari tubuhku dan mulai turun ke bawah: turun ke bawah, ke bawah dan ke bawah. Oh, aku tahu bahwa itu hanya beberapa saat saja lamanya, tetapi rasanya seperti sesuatu yang kekal.

Terus turun ke bawah sampai kegelapan mengelilingi aku. Terang di atas telah menghilang. Semakin jauh aku turun ke bawah, semakin panas dan gelap suasana di sekitarnya, sampai akhirnya aku berada di dasar lubang itu lagi dan melihat pintu gerbang neraka. Aku juga menyadari bahwa makhluk itu datang menjumpai aku.

Aku berusaha untuk memperlambat gerakanku – nampaknya aku sedang terapung-apung ke arah bawah – tetapi aku merasakan adanya tarikan yang membuat aku semakin ke bawah. Dan makhluk itu mulai memegang lenganku. Saat itu juga, suara itu terdengar kembali – suara pria. Aku tidak mengerti apa yang dikatakannya, tetapi ketika suara itu terdengar seluruh tempat itu bergoncang. Makhluk itu kemudian melepaskan tangannya dari lenganku.

Bagaikan adanya penyedot di bagian punggungku, aku mulai terapung-apung naik ke atas kembali di tengah-tengah kegelapan. Kemudian aku dapat melihat terang bumi di aatasku sebelum aku keluar dari lubang itu. Perbedaannya kali ini adalah aku muncul kembali di kaki ranjang.

Pada saat yang pertama kali, aku muncul di serambi rumah kakek. Kali ini, aku muncul kembali di kaki ranjang. Untuk beberapa saat lamanya, aku berdiri diam di tempat itu.

Aku dapat melihat tubuhku yang terbaring di atas tempat tidur. Aku dapat melihat nenek yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memegang tanganku. Aku melompat kembali ke dalam tubuhku dari kaki ranjang itu melalui mulutku. Ketika aku berada di dalam tubuhku kembali, aku dapat berkomunikasi dengan nenek. Aku berkata, “Nenek, aku akan pergi kembali, dan aku tidak akan kembali lagi kali ini. “

“Cucuku, aku pikir engkau tidak akan kembali lagi waktu itu.”

“Nenek, di manakah kakek? Aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya,” tanyaku.

Dia menjawab, “Cucuku, kakekmu sedang pergi ke daerah timur untuk menagih uang sewaan dari rumah-rumah yang disewakannya.”

“Nenek, katakan selamat tinggal pada kakek, “ kataku. “Aku tidak pernah mengetahui bagaimana memiliki seorang ayah. Dialah orang yang paling menyerupai seorang ayah yang pernah aku ketahui. Dia memberikan aku sebuah keluarga ketika aku membutuhkannya. Katakan padanya bahwa aku menghargainya. Katakan padanya bahwa aku mengasihinya. Katakan selamat tinggal pada kakek.”

Kemudian aku meninggalkan pesan untuk kakak perempuanku, kakak yang tertua, dan untuk kakak lelakiku,” dan akhirnya aku berkata, “Dimanakah Pat?” Pat adalah adik lelakiku yang kecil berusia 9 tahun.

“Dia sedang ke tetangga sebelah untuk menelepon dokter kembali,” jawan nenek.

Aku meninggalkan pesan untuk Pat, dan jantungku berhenti kembali untuk ketiga kalinya. Aku dapat merasakan ketika peredaran darahku berhenti. Tiba-tiba jari-jari kakiku mati rasa. Lebih cepat daripada membunyikan jari-jari Anda, kaki, pergelangan kaki, lutut, paha, perut dan jantung berhenti bekerja – dan aku melompat keluar dari tubuhku dan mulai turun ke bawah.

Sampai pada saat yang ketiga kalinya ini, aku masih berpikir, “Hal ini tidak sedang terjadi padaku. Ini hanyalah suatu khayalan. Ini tidak mungkin terjadi.”

Tetapi kemudian aku berpikir, “Ini saat yang ketiga kalinya. Aku tidak akan kembali lagi pada saat yang ketiga ini!” Kegelapan mengelilingi aku, lebih pekat dari kegelapan malam yang pernah dilihat oleh manusia. Firman Tuhan berbicara tentang orang pria dan wanita yang dilemparkan ke “kegelapan di luar,” dimana terdapat ratapan dan kertakan gigi (Mat 8:12).

Dan di dalam kegelapan, aku berteriak, “Allah, aku adalah anggota gereja! Aku telah menerima baptisan air!” (Anda lihat, aku sedang memberitahukan Dia: “Aku tidak seharusnya pergi ke tempat ini; aku pergi ke tempat yang salah !”)

Aku menanti-nantikan untuk suatu jawaban, tetapi tidak kudapatkan – hanya gema suaraku sendiri di tengah-tengah kegelapan. Dan aku berteriak lebih keras untuk kedua kalinya, “Allah, aku adalah anggota gereja! Aku telah menerima baptisan air!”

Aku menanti-nantikan untuk suatu jawaban, tetapi tidak kudapatkan – hanya gema suaraku sendiri di tengah-tengah kegelapan.

Aku kira aku akan membuat takut seluruh anggota jemaat apabila aku mengulangi kembali teriakan yang aku lakukan saat yang ketiga kalinya. Bahkan apabila teriakanku ini dapat menakutkan orang-orang yang ada di neraka sehingga mereka berpindah masuk ke sorga, aku akan melakukannya. Pasti aku akan melakukannya!

Aku bersungguh-sungguh di dalam teriakanku, “ALLAH! ALLAH! AKU ADALAH ANGGOTA GEREJA! AKU TELAH MENERIMA BAPTISAN AIR!” Tetapi Anda lihat, walupun menjadi anggota gereja dan menerima baptisan air itu benar, membutuhkan persyaratan yang lebih dari sekedar menjadi anggota gereja dan menerima baptisan air untuk tidak masuk ke neraka, tetapi masuk ke sorga!

Dan semua yang dapat aku dengar kembali adalah gema suaraku sendiri di tengah-tengah kegelapan.

Aku berada di dasar lubang itu kembali. Aku dapat merasakan panas api itu ketika menerpa wajahku. Lalu aku mendekati pintu masuk itu, pintu gerbang ke neraka.

Makhluk itu memegang lenganku. Sebenarnya aku ingin melawan makhluk itu untuk tidak membawa masuk ke dalam pintu gerbang neraka. Namun, hal yang dapat aku lakukan hanyalah memperlambat sedikit gerakanku, dan makhluk itu menggandeng lenganku.

Puji syukur kepada Tuhan, karena suara itu terdengar kembali. Aku tidak mengetahui siapakah dia – aku tidak melihat seorangpun – aku hanya mendengar suaranya. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan, tetapi apapun yang dia katakan, tempat itu bergoncang. Dan makhluk itu melepaskan genggamannya dari lenganku.

Bagaikan adanya penyedot bagian punggungku, aku terangkat ke atas menjauhi pintu gerbang neraka sampai aku berdiri terapun-apung di tengah-tengah kegelapan. Aku terus terangkat dengan kepala di bagian atas.

Sementara terangkat ke atas menembus kegelapan, aku mulai berdoa. Rohku, manusia batiniah yang hidup di dalam tubuh jasmani, adalah makhluk hidup yang kekal =- manusia rohani. Aku mulai berdoa, “Allah, aku datang kepadaMu di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus. Aku mohon Engkau mengampuni dari segala dosaku dan menyucikanku dari segala dosa.”

Aku muncul kembali di samping tempat tidur. Perbedaan diantara ketiga pengalaman ini adalah yang pertama kali aku muncul di serambi rumah; yang kedua aku muncul di kaki ranjang; dan yang ketiga aku muncul tepat di samping tempat tidur dan melompat masuk dalam tubuhku.

Ketika aku masuk ke dalam tubuhku, suaraku terdengar memanjatkan doa tadi tepat di tengah-tengah kalimat itu. Aku sedang berdoa dari rohku; suaraku memanjatkan doa itu dan terus melanjutkan untuk berdoaku.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1933. Kami tidak memiliki kendaraan bermotor sebanyak waktu sekarang ini; pada waktu itu sedang terjadi depresi! Tetapi orang-prang mengatakan kepada kami bahwa aku dan ibu berdoa dengan suara yang begitu keras sehingga arus lalu lintas kendaraan tertahan sampai dua blok jauhnya pada kedua sisi rumah kami.

Aku ingin mengatakan kepada Anda bahwa seolah-olah beban seberat dua ton telah terangkat dari hatiku. Damai sejahtera memenuhi hatiku. Aku melihat jam kakek yang ada di mantelnya, dan waktu menunjukkan pukul 19.40. Semua peristiwa ini terjadi hanya dalam 10 menit.

Jadi aku dilahirkan kembali pada pukul 19.40, tanggal 22 April 1933, di kamar tidur, dan aku telah diselamatkan sejak saat itu.

Aku tetap tidak dapat bangkit dari tempat tidur, dan dokter mengatakan bahwa aku meninggal – bahkan , lima dokter yang telah mengatakan demikian. Salah seorang dokter itu berpraktek di Klinik Mayo yang terkenal. Dia berkata, “Di antara satu juta kesempatan yang ada, engkau tidak memiliki satu kesempatanpun.” Jadi, aku berpikir aku pasti akan meninggal.

Tetapi aku ingin mengatakan kepada Anda apa yang aku lakukan: Aku memuji diriku sendiri untuk dapat tidur setiap malam. Semua lampu akan dipadamkan di dalam rumah; setiap orang berada di tempat tidurnya masing-masing. Aku akan ditinggalkan sendiri, sebagai seorang anak lelaki yang berusia 15 tahun dengan alam pikirannya sendiri.

Dokter telah memberitahuku demikian: “Engkau telah mengetahui kondisi jantungmu; engkau dapat saja meninggal setiap saat. Seseorang mungkin bersamamu di dalam kamar dan sedang memandang keluar jendela untuk beberapa saat, kemudian melihat engkau kembali dan ternyata engkau telah meninggal tanpa bersuara. Atau, mungkin saja mereka menemukanmu telah meninggal pada suat pagi.”

Pada malam hari aku mulai berbicara dengan tenang kepada diriku sendiri, “Terima kasih Yesus. Segala kemuliaan bagi Allah. Terpujilah Tuhan. Aku akan memberikan senyuman di wajahku. Apabila mereka menemukanku meninggal dengan sebuah senyuman di wajahku, mereka akan tahu bahwa aku meninggal dengan bahagia!”

BAB II

KEMATIAN DAN AWAN KEMULIAAN

Aku tidak dapat bangun dari tempat tidur selama 16 bulan sebelum akhirnya aku disembuhkan dari penyakitku. Empat bula setelah mengalami kelahiran kembali, yaitu pada hari Rabu tanggal 16 Agustus 1933 – empat hari sebelum ulangtahunku yang ke-16 – aku meninggaal. Terlalu banyak pengalaman dengan kematian yang telah aku miliki yang tidak seharusnya aku ketahui.

Keluargaku telah memindahkan aku ke kamar tidur di bagian utara. Adikku yang kecil yang masih berusia 9 tahun bersama-sama denganku di dalam kamar, karena harus ada seseorang yang bersama denganku setiap saat. Keadaanku masih sangat lemah.

Temperatur udara pada waktu itu mencapai 106. Tidak ada alat pendingin (AC) yang tersedia pada tahun 1933. Orang-orang membeli kipas angin untuk membuat udara di sekitarnya lebih sejuk, tetapi keluarga kami tidak memiliki kipas angin.

Semua pintu dan jendela dalam keadaan terbuka, tetapi tubuhku terasa begitu dingin. Pada pukul 13.00 temperatur udara sudah mencapai lebih dari 100 – bahkan mencapai puncaknya – sampai 106 pada pukul 15.00 - namun, tubuhku terasa begitu dingin sehingga mereka menutup tubuhku dengan selimut. Botol-botol air panas, batu-batu panas dibungkus dengan kain, kemudian diletakkan mereka di sekitar tubuhku untuk menghangatkannya.

Pada pukul 13.30 tanggal 16 Agustus 1933, kematian menyerangku kembali. Aku segera berkata kepada adikku, “Lari panggil ibu – cepatlah! Aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya.”

Adikku pergi keluar kamar dengan tergesa-gesa. Dan ketika adikku pergi, ruang kamar menjadi terang dipenuhi dengan kemuliaan Allah. (Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 7 mengatakan bahwa ketika Stefanus dirajam dengan batu, dia melihat kemuliaan Allah, dan Yesus berdiri di sebelah kanan Bapa. Jika kita melihat seluruh isi kitab Perjanjian Lama dan mempelajari tentang kemuliaan Allah, kita akan menemukan bahwa kemuliaan Allah sering kali nampak dalam bentuk awan – putih, terang dan berkilauan.)

Ruang kamar dipenuhi dengan awan yang terang itu, lebih terang daripada matahari yang bersinar di atas salju, dan Anda tahu, betapa menyilaukannya terang itu. Kemudian aku pergi di dalam kemuliaan itu dan meninggalkan tubuhku. Ketika aku naik sampai di atap rumah, aku melihat ke bawah kembali di dalam kamar tidurku, dan aku dapat melihat tubuhku yang terbaring kaku di atas tempat tidur dengan mata dan mulut yang terbuka.

Aku melihat ibuku membungkukkan badannya dan memegang tanganku. Tiba-tiba aku mendengar suatu suara di dalam bahasa Inggris, tetapi aku tidak melihat seorangpun. Aku menduga itu adalah suara Yesus sendiri, karena terdengar seperti suara pria. Dia berkata, “Kembali! Kembali! Kembali ke bumi! Tugasmu belum dikerjakan!”

Aku turun kembali dan muncul di dalam kamar. Ketika aku masuk kembali ke dalam tubuhku, aku berkata kepada ibu yang sedang menggenggam tanganku, “Ibu! Aku tidak akan meninggal sekarang.”

Ibu berpikir bahwa aku tidak akan meninggal pada saat itu. Tetapi yang aku maksudkan adalah aku tidak akan meninggal untuk selanjutanya – aku akan hidup dan melakukan pekerjaan Allah.

Satu tahun kemudian aku disembuhkan setelah bertindak dengan iman atas dasar Firman Allah.

Apabila Anda berada di dalam kekekalan, tidak akan terdapat waktu. Selama bertahun-tahun aku tidak pernah menceritakan pengalaman ini, karena sesungguhnya terlalu sakral bagiku untuk membicarakannya. Tetapi setelah melayani Tuhan selama 15 tahun – diawali sebagai pengkotbah cilik di gerejaku – Tuhan mulai mendorongku untuk menceritakan pengalaman ini kepada orang lain. Jadi, aku mulai melakukan apa yang telah Dia katakan kepadaku.

Ibu telah mendengar kisah yang aku alami tentang pergi ke neraka, tetapi dia belum pernah mendengar pengalamanku diangkat dalam awan kemuliaan. Singkatnya, sebelum ibu akhirnya meninggal pada usia 80 tahun, dia pernah mendengarkan aku mengajar di radio. Pada waktu itu, aku mengajar tentang “Apa Artinya Percaya Dengan Hati” yang berbicara tentang manusia batiniah dan manusia jasmaniah, dan mengajarkan bahwa untuk percaya dengan hati artinya percaya dengan roh Anda – manusia batiniah Anda. Untuk menjelaskan pengajaran ini, aku menceritakan pengalamanku diangkat dalam awan kemuliaan.

Pada saat aku berjumpa dengan ibuku, dia berkata, “Anakku, aku belum pernah mendengar cerita itu sampai aku mendengarnya di radio. Tetapi, masih ada hal-hal lain yang belum engkau ketahui. Aku akan memberitahukan apa yang aku dan nenekmu alami pada waktu itu.”

“Engkau mengatakan bahwa engkau berada di awan kemuliaan hanya untuk beberapa saat saja. Tetapi sesungguhnya lebih dari 10 menit engkau meninggal,” tandas ibu.

“Pat datang ke depan sambil berlari-lari dan berkata, ‘Ibu! Ibu! Nenek! Nenek! Ken hampir meninggal! Dia hampir meninggal!’ Aku berada paling dekat dengan kamarmu, dan dengan cepat aku berlari keluar dari dapur, melewati ruang keluarga, menuju ruang makan, dan tiba di depan kamarmu, tetapi aku tidak dapat masuk!”

“Pintu kamarmu terbuka, tetapi aku tidak dapat masuk ke dalam. Nampaknya, kamarmu dipenuhi dengan sesuatu, dan aku dapat merasakan kehadiran Allah – kemuliaanNya. Lalu aku mundur sampai ke ruang makan dan menundukkan kepalaku untuk berdoa, “ ibu menjelaskan. (Ibu tidak dapat melihat ke dalam kamar karena dia buta sejak aku masih kanak-kanak.)

Nenek (pada waktu itu berusia 70 tahun) juga datang berlari-lari di belakang ibu. Dia mencoba berlari menembus awan kemuliaan itu dan terpental ke belakang seperti Anda sedang melambungkan bola karet dan bola itu akan kembali lagi kepada Anda. Kemudian nenek mundur beberapa langkah melewati ruang makan dan mencoba berlari lagi, tetapi terpental kembali. Dia mundur terus melewati ruang makan, mundur sampai ke tembok, berlari melewati ruangan itu kembali dan tetap tidak dapat menembus pintu kamar yang terbuka.

“Kemudian karena nenekmu hampir putus asa, dia hanya bersandar pada pintu dan berkata, ‘Lillie, apa yang terjadi; aku tidak dapat melihat! Kamar tidur dipenuhi dengan sesuatu seperti kabut atau awan putih! Aku tidak dapat melihat tempat tidur, juga tidak dapat melihat Kenneth. Aku tidak dapat melihat ke dalam kamar, dan aku tidak dapat masuk ke sana!”

“Kemudian aku mengatakan kepada nenekmu untuk lebih baik menunggu,” ungkap ibu. “Aku terus berdoa di tempat semula dengan kepala tertunduk selama 10 menit – tepat di muka pintu kamarmu yang terbuka – namun, nenekmu tetap tidak dapa melihat ke dalam kamar. Akhirnya, dia berkata, ‘Lillie, sudah terlihat sekarang – awannya mulai terangkat.”

“Bagaikan kabut yang perlahan-lahan hilang, nenekmu dapa melihat ke dalam kamar sedikit demi sedikit. Tetapi kami tidak berani masuk ke dalam kamar sampai gumpalan awan yang terakhir terangkat.”

Nenek dapat melihatnya dengan kedua mata jasmaninya. Dia berdiri di muka pintu, dan ketika dia berkata, “Semuanya sudah terangkat,” ibu bergegas masuk ke dalam kamar.

“Aku membungkukkan badan dan menggenggam tanganmu, dan engkau telah meninggal. Namun, tiba-tiba engkau berkata, ‘Ibu ! Aku tidak akan meninggal sekarang,’ “ ungkapnya.

Sejak saat itu sampai sekarang ini, aku tidak pernah merasa sedih untuk orang Kristen yang meninggal dunia, tidak peduli usia mereka yang masih muda, setengah tua atau yang sudah lanjut usia. Ya, aku percaya kesembuhan adalah milik kita, tetapi kita semua pasti akan pulang ke rumah Bapa pada suatu saat nanti. Aku tidak pernah merasa sedih untuk mereka, karena aku tahu kemana mereka pergi.

Tetapi, itu cerita yang lain bagi merka yang belum mengenal Tuhan!

BAB III

MENINGGAL TANPA ALLAH

Aku teringat ketika masih terbaring sakit di tempat tidur, nenek mempunyai seorang saudara sepupu yang sewaktu-waktu datang mengunjungi kami. Nenek moyang mereka berasal dari Tennessee dan menetap di Texas beberapa tahun yang lampau. Setelah hampir 40 tahun berlalu, mereka akhirnya mengetahui bahwa dua orang bersaudara sepupu tinggal di sautu tempat yang hanya berjarak 30 mil jauhnya. Saudara sepupu nenek ini tinggal di Sherman, Texas; jadi dia biasa mengunjungi kami setiap tiga bulan sekali.

Tetapi Anda tidak akan berani berbicara kepadanya tentang Allah. Anak perempuannya akan menarik ibunya keluar dari rumah, dan anak itu akan mengumpat, “Dengarlah apa yang kukatakan ini: Sesungguhnya semua pengkotbah hanya mencoba menakut-nakuti orang dengan menceritakan tentang neraka dan sorga! Ketika seseorang meninggal, orang itu meninggal seperti halnya seekor anjing! Gereja-gereja harus ditutup dan dibom! Semua pengkotbah harus dibunuh. Mereka menjadi pendeta hanya untuk mencari uang. “

Setelah aku menjadi pengkotbah beberapa tahun, aku dan istriku pergi ke Sherman mengunjungi orangtua anak perempuan tadi. Bapak Rooker berkata, “Kenneth, apakah engkau masih ingat L. ?”

“Ya tentu saja,” jawabku.

“Aku baru saja berjumpa dengan suaminya dan dia berkata, ‘ Jika Kenneth dan Oretha datang, kami ingin minta mereka datang menjumpai kami. Ibu sedang terbaring sakit dan dokter mengatakan bahwa kondisi ibu makin memburuk.’ “

Lalu aku dan isteriku pergi ke rumah mereka. Seorang wanita datang membukakan pintu, dan aku masih dapat mengenali dia yang ternyata adalah anak perempuan itu, walaupun selama 12 tahun aku tidak pernah berjumpa dengannya.

“Kenneth Hagin,” ucapku.

“Oh, engkau adalah anak lelaki Lillie! Engkaulah yang menjadi pengkotbah?” tanya wanita itu.

“Ya, benar,” jawabku dengan pasti.

Wanita itu menangkap tanganku dan mulai menangis. “Kenneth, engkau masih ingat ibuku? Engkau tidak dapat menceritakan Allah kepadanya, “ ujarnya.

“Aku masih mengingatnya,” ungkapku.

“Maukah engaku berbicara kepadanya?” tanyanya dengan nada memohon. “Ibu sedang terbaring sakit di kamar. Dokter baru saja pergi beberapa menit yang lalu dan memberitahukan bahwa ibu akan segera meninggal. Maukah engkau berbicara kepadanya?”

“Tentu saja, aku mau, L., jika aku diijinkan,” jawabku.

Dia menggandeng tanganku dan membimbingku masuk ke kamar tidur di bagian belakang. Dia membuka pintu kamar, dan kami menghampiri tempat tidur ibunya. Wanita itu yang berusia 72 tahun terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dalam posisi setengah duduk.

Mulut dan matanya terbuka – terlihat seperti kelereng. Terdengar suara kertak kematian di tenggorokannya.

L. memegang tangan ibunya dan berkata, “IBU!” Matanya yang terbuka, seperti kaca dan bagaikan kelereng itu tidak pernah bergerak-gerak. Ada suara kertakan di tenggorokannya. Dia masih bernafas.

“IBU!” Tidak ada jawaban.

“IBU!” Tidak ada jawaban.

Wanita itu mendekatkan mulutnya ke telinga ibunya dan mengucapkan lebih keras: “IBU!” Aku berdiri di sampingnya dan membungkukkan badanku.

Bibir dan matanya tidak pernah bergerak, dan juga tidak tertutup. Mulut dan matanya terbuka lebar. Lalu, tiba-tiba bibirnya mulai bergerak sedikit dan suara yang muncul dari dalam terdengar pelan, “Ya …? Ya …?”

“IBU! Engkau tahu siapa aku ini?”

“Ya. Engkau adalah bayiku.” (Wanita itu dikatakan bayinya, walaupun usianya sudah mencapai sekitar 50 tahun.)

“IBU! Ada seseorang yang ingin berjumpa denganmu sekarang, “ ujarnya. Ibu itu memberikan anggukan yang lemah sekali.

“IBU! Engkau masih ingat bibi Sally di McKinney? Engkau masih ingat anak perempuannya, Lillie? Engkau masih ingat dengan anak lelakinya yang terbaring sakit di tempat tidur – Kenneth namanya - yang sekarang menjadi seorang pengkotbah?” tambahnya lagi.

Ketika dia mengucapkan kata “pengkotbah,” ibu itu tersentak kaget seolah-olah ada seorang yang telah menembaknya, tetapi matanya tidak pernah bergerak. Dia bangkit dan berkata,

“Kenneth, Kenneth! Dimana engkau? Dimana engkau?”

Aku memegang tangannya, dan dia berkata “Oh, Kenneth, Kenneth! Engkau adalah pengkotbah – katakan padaku bahwa tidak ada neraka! Oh, katakanlah kepadaku! Aku katakan bahwa tidak ada neraka, tidak ada neraka. Aku katakan bahwa setiap pengkotbah harus dibunuh. Aku merasa takut! Oh, aku takut! Aku takut!”

“Begitu gelap. Begitu gelap. BEGITU GELAP! BEGITU GELAP! … “ Dan ibu itu jatuh lemas di atas bantalnya. Kami tidak berhasil memberitakan Allah kepadanya.

Ibu itu meninggal dan pergi ke neraka sambil berteriak, “Begitu gelap! Begitu gelap!”

Bapak/Ibu, saudara-saudara yang terkasih : ada sorga yang dapat kita miliki dan ada neraka yang harus kita hindari. Perkataan ini nampaknya kuno bagi sekelompok orang, tetapi injil yang kuno tetap berlaku kebenarannya, sampai sekarang ini.

Suatu hari ketika di Sorga

Seseorang menghampiriku dan berkata:

“Kawan, engkau mungkin tidak mengenaliku

sekarang, tapi ingatkah …..?

Engkau pernah menceritakan

tentang Yesus kepadaku

air mataku pun mengalir ….

Sejak itu hidupku diubahkan

Terima kasih kawan !

Kalau hari ini aku ada disini

About these ads

14 responses

  1. tidak sepatah pun ucapan mu itu benar sesungguhnya menurut perkataanmu benar itu salah marilah kita tinggalkan agama kristen ini biar kita tidak terjerumus k dalam api neraka yang bergejolak sngt panas aku pernah mengalami kesaksian ini dan aku sekarang aku menyadari bahwa agama yang benar adalah islam sehingga berganti namaku menjadi ibrohim bahwa yesus, isa di anggap tuhan itu salah bahwasanya isa adalah pembawa injil seperti nabi-nabi allah swt bukan di anggap tuhan sesungguhnya allah swt maha pengasih lagi maha penyayang.bukanya saya mengajak untuk beragama islam tapi saya mengingatkan anda tidak mungkin anak,cucu adam sebagai tuhan<<<<<…..

    • bung,

      anda tidak lebih adalah calon penghuni neraka, tahukah anda bahwa menjadi anggota gereja tidak menjamin ia masuk sorga? karena gereja tidak menyelamatkan, yang menyelamatkan hanyalah YESUS yang telah kalian sangkal keILAHIANNYA, meninggalkan YESUS adalah pilihan anda dan anda tersesat dalam pemahaman anda, welcome to hell for you, you will meet your prophet in hell

    • anda mengaku mengenal YESUS dulunya tetapi anda tidak tahu apa FIRMANNYA, jika anda bilang tidak mungkin TUHAN menjadi manusia, berarti bisa saya simpulkan bahwa tuhan yang anda imani adalah tuhan yang sombong, saya bisa menggugat tuhan yang demikian: bisakah tuhan yang anda imani merasakan penderitaan manusia sehingga bisa meneladani cara hidup yang benar? Tuhan adalah Maha Kuasa, IA berhak mengambil rupa manusia saat datang sebagai manusia? Islam agama yang benar?? benar2 membuat manusia kesetanan

    • oya satu hal, menurut catatan sejarah, orang2 di daerah jawa yang menolak masuk islam (dulu masih kerajaan hindu) dikejar2 dan melarikan diri, mereka adalah suku tengger yang ada di daerah gunung bromo, sejak kapan kedatangan agama islam membawa damai???
      1. DAFTAR PEMBUNUHAN YANG DILAKUKAN NABI MUHAMMAD SAW:
      – Kais memancung kepala Aswad sambil berteriak ‘Allahuakbar’. – Baladhuri, hal.161.
      – Muhammad memerintahkan pembunuhan atas Asma bt. Marwan, seorang penyair Yahudi tatkala Asma
      sedang menyusui bayinya. – Ibn Ishaq, hal.676, ibn Sa’d, vol.ii, hal.30-31.
      – Muhammad memerintahkan pembunuhan atas Abu Afak, pria tua berusia 120 tahun di Medina. – Ibn
      Ishaq, hal.675, ibn Sa’d, vol.ii, hal.31.
      – Muhammad menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Ka’b b. al-Ashraf, seorang penyair Medina. Sahih Bukhari, 5.59.369
      – Muhammad memancung 600-900 Yahudi dari B. Qurayzah yang tidak memerangi Muslilm tapi diserang
      Muslim dan telah menyerah tanpa syarat. – Tabari, vol.viii, ch. Bani Qurayzah; Heykal, ch. Perang
      Khandaq & Bani Qurayzah, ibn Ishaq, ch. Bani Qurayzah.
      – Muhammad menghalalkan pembunuhan para perempuan dan anak-anak pagan karena mereka (anak-
      anak tersebut) merupakan bagian dari masyarakat pagan… (Sahih Bukhari 4.52.256).
      – Muhammad memberkati Jarir untuk melakukan pembantaian (termasuk anak-anak) di Dhu Khalasa. –
      Sahih Bukhari, 4.52.262.
      – Muhammad menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Al-Yusayr b. Rizam dan sekelompok orang-
      orang Yahudi Khaybar di al-Qarqara. – Ibn Ishaq, hal.665-666.
      – Muhammad memerintahkan agar murtadin dibunuh; jika seseorang (Muslim) meninggalkan agamanya,
      bunuh dia. – Sahih Bukhari, 4.52.260.
      – PEMBUNUHAN UMM QIRFA (Fatima bint Rabia bin Bader AlFazarri)
      Sumber: buku Ibn Kathir Al Sira Al Nabawiya Al Halabiya, bagian 3
      “seorang perempuan yang sangat tua” dengan cara mengikatkan kedua tangan dan kakinya dengan tali ke empat onta yang dipacu ke dua arah yang berlawanan sampai tubuh Umm Qirfa terbelah (Ibn Ishak, hal.664-665).

      2. DISKRIMINASI TERHADAP PEREMPUAN
      – Sang Nabi berkata: Seorang Muslim tidak akan ditanyai Allah mengapa dia memukul istrinya. – Sunaan Abu Dawud, 11.2142.
      – Sang Nabi berkata: Masyarakat yang dipimpin perempuan tidak akan pernah berhasil. – Sahih Bukhari, 5.59.709.
      – Kebanyakan (mayoritas) penghuni neraka adalah perempuan. – Sahih Bukhari 1.6.301.
      – Seorang perempuan harus menjaga kemaluannya agar siap untuk melayani setiap waktu (Ihya Uloom Ed-Din of Ghazali, Tr. Dr Ahmad Zidan, vol.i, hal.235)
      – Tidak perlu pakai alasan segala untuk dapat menceraikan istri-istri. (Banyak referensi, Hukum Sharia Islam–Dr. Abdur Rahman Doi, hal.173).
      – Jika perempuan ke luar rumah, setan menatapnya; karena itu sembunyikan perempuan. – Tirmidhi, 928.

      3.DISKRIMINASI TERHADAP KAFIR
      – Q 3.28 Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali …
      – Tabari IX:69 “Membunuh kafir adalah hal kecil bagi kami.”

      2. ISTRI-ISTRI SANG NABI
      Sahih al-Bukhari, VOLUME 1, Buku 5, No. 268:
      Anas bin Malik berkata, “Nabi biasanya pergi mengunjungi semua istrinya secara bergilir, selama siang dan malam, dan mereka jumlahnya ada sebelas.” Aku bertanya pada anas, “Apakah nabi punya kekuatan untuk itu? Anas menjawab bahwa, “Biasanya kami mengatakan bahwa Nabi diberikan kekuatan 30 lelaki ”

      3. MENIDURI AISYAH- BOCAH BERUSIA 9 TAHUN
      Bukhari Vol 1, Buku 6. Hadith 298:
      Diriwayatkan oleh Aisha:
      Nabi dan aku biasanya mandi dari satu bak ketika kami sedang Junub. Selama hadi, dia biasanya menyuruh aku memakai Izar (baju dari pinggang ke bawah) dan biasanya dia meraba-raba aku. Ketika sedang Itifaf, dia biasanya mendekatkan kepalanya padaku dan aku mencucinya ketika aku sedang haid.

      4. MELEGALKAN PERKOSAAN TAHANAN PERANG
      Qur’an: (Surat 4:24) “dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami,kecuali budak-budak yang miliki oleh tangan kananmu.”

      • Sesungguhnya nabi isa bukan anak allah, tetapi hamba allah, dan satu lagi untuk yang coment bernama aan jangan s0k muna deh, beraninya menjelekkan nabi mohammad saw, allah maha tahu dan allah akan membalas dengan siksanya kelak untukmu

      • Terima Kasih atas komentar yang sudah menghina agama kami (Islam)
        “saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain allah SWT, dan saya bersaksi bahwa nabi muhammad SAW utusan allah” ..

  2. anda meninggalkan Yesus Kristus padahal anda pernah mengenal Nya.. anda tidak pernah membaca alkitab dengan benar.. Tuhan Yesus adalah anak Allah sendiri lahir dari anak dara Maria oleh karena roh kudus.
    Apa anda tidak mengingat bahwa kekuasaan Tuhan diluar logika manusia.. anda berkata tidak mungkin.. bagi Tuhan tidak ada sesuatu yang mustahil dihadapan Nya.

  3. kl anda meninggalkan Yesus gpp, tp jgn pernah anda menjelekkan agama yg dulu anda ikuti…suatu saat kl anda pindah lg dari Islam ke agama lain apakah anada jg akan menjelekkan Islam??

    Kl Munafik mah ga bisa diobati…

  4. Berbuatlah kebaikan sesuai dengan apa yang diberikan Yesus, Tuhan Penyelamat Umat manusia dan percayalah akan Dia. maka hidupmu akan di selamatkan.

  5. Kebaikan bisa menyelamatkan kita, hanya satu hal saja, bahwa perbuatan kebajikan merupakan suatu ciri seseorang memiliki iman yang kuat terhadap agama yang kita peluk. Semua agama itu selalu mengajarkan untuk tujuan yang berkenan kepada Tuhan. Tidak ada satupun agama yang salah, tidak ada. Tuhan memang sengaja menciptakan banyak agama agar kita semua menjadi unik di mata Tuhan. Tuhan menciptakan manusia itu baik adanya, tanpa ada kecuali, hanya saja manusia sendirilah yang menyalah-gunakannya. Jadi agama itu tidak ada yang salah, ajaran mereka pasti baik, asalkan berguna bagi kehidupan manusia. Yang membuat tidak baik adalah manusia sendiri, tidak cukup hanya mengimani suatu agama saja tapi kita harus mengaplikasikan apa yang sudah diajarkan oleh agama kita kepada kita. Cukup sudah perdebatan antar agama ini, nanti akhirnya justru menimbulkan masalah yang benar-benar tidak diinginkan manusia maupun oleh Tuhan sendiri. Jika ada seseorang yang menghina agama salah satu dari kita semua, biarkan saja jangan dibalas dengan kata-kata yang menyambung dengan ajaran mereka masing-masing cukup dengan kata “Terima kasih”, itu artinya kita belajar untuk menjadi rendah hati dan memaafkan. Dosa para pendendam sangatlah besar, jadi jangan lakukan itu. Terima kasih. *aku tidak membela salah satu orang yang agamannya berbeda di forum ini, karena menurutku semua agama baik adanya diciptakan.

  6. karna hanya di dalam Yesus ada hidup yang kekal dan damai sejahtera…
    buat u yang sudah meninggalkan Yesus cepatlah kembali karna,, seperti bunga yg dulunya mekar. waktu bunga itu mulai layu bahkan mati bunga itu akan di buang dalam perapian yg kekal!! begitu jg dengan iman saudara.. cepat lah kembali sebelum semuax terlambat…..Tuhan Yesus Mengasihimu

  7. Didunia ada kehidupan yang terjadi dan manusianya sama sekali tidak sadar bahwa neraka itu ada di bawah sini… Mereka tidak tahu sebuah kenyataan dengan miliaran orang yang menderita dan memohon belas kasihan dan tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk keluar dari neraka….. dan kebencian atas diri sendiri karena tidak mengambil kesempatan untuk menerima Yesus…

    Anda terjebak disana selama nya….

  8. Puji T uhan, semoga menjadi penguat iman kita. Bagi agama lain gak boleh menghina, kita kerjakan aja yg menjadi kepercayaan kita masing2x. Selama kita hidup di dunia yg terpenting hrs berbuat kebaikan, agar kita di cintai sesama dan di sayangi Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s