Faith in the marketplace

Tuhan senantiasa menginginkan kita untuk berinteraksi denganNya selama 24 jam, dan bukan 23.5 jam. Mungkin kita semua pernah mendengar pernyataan ini. Tapi selama kita beraktivitas, kadang koq susah yah untuk interaksi dengan Tuhan. Seringkali kita malah masuk ke dalam sejumlah kesibukan di pekerjaan kita, atau kita malah terlilit oleh masalah-masalah yang ada di sekeliling kita.

Kalau boleh aku bilang, seberapa sering kita interaksi dengan Tuhan itu menandakan seberapa dekat kita dengan Tuhan. Kalau kita sedang jatuh cinta, ralat : kalau saya sedang jatuh cinta, saya akan memikirkan orang tersebut dengan frekuensi yang sangat sering dan ada sebuah hasrat yang amat sangat untuk berdekatan dengan dia, interaksi dan ngobrol dengan dia. Seberapa dalam kita cinta sama Tuhan? Seberapa deket kita dengan Tuhan? Semakin kita kenal Tuhan, maka semakin ingin kita lebih lagi untuk berdekatan dengan Dia. Semua yang kita pikirkan adalah bagaimana kita mau memuliakan Tuhan di dalam keseharian kita, di dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan.

Manusia adalah makhluk penyembah. Artinya, seorang manusia tidak bisa tidak dia akan menyembah sesuatu seumur hidupnya. Entah ia menyembah Tuhan, atau sesuatu yang disebut Tuhan, atau pekerjaan, atau istri, atau pacar, atau karir, atau penyanyi idola, atau internet, dan lain sebagainya. Sekali lagi yang paling sering anda pikirkan bisa jadi adalah apa yang anda sembah saat ini.

Lha? Sekarang pertanyaannya, apakah kita tidak boleh berpikir hal yang laen selain Tuhan? Masa di seluruh jam kita selama 24 jam satu hari, kita tidak boleh memikirkan hal yang laen selain Tuhan? Bukan itu. Selama 24 jam sehari kita hidup, ada kalanya kita benar2 memuji dan menyembah Tuhan. Namun, ketika kita dalam aktivitas kita, senantiasa kita mengutamakan Tuhan. Kita melibatkan Tuhan di setiap apa yang kita kerjakan. Bahkan ketika kita tidur, ketika kita libatkan Tuhan dalam waktu istirahat kita, kita sedang memuliakan Tuhan. Perhatikan, kata libat di sini juga bisa diartikan sebagai membiarkan Tuhan mengambil alih. Apapun yang kita kerjakan, ketika Tuhan yang berada di atas segalanya, percayalah hasilnya akan menjadi lebih dari apa yang kita targetkan, dan akan digenapilah firman Tuhan: apa yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan bahkan timbul dari hati itulah yang disediakan oleh Tuhan bagi orang-orang yang mengasihi Dia!

Ada sebuah kejadian minggu lalu. Tepatnya ketika aku sedang sibuk-sibuknya menangani urusan operational. Lagi sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba salah seorang kolega aku bilang begini, “Paul, kayaknya ini order ada masalah, berani taruhan? Order ini pasti gak bisa print dokumen pengiriman.” Lalu aku tanya, ” kenapa begitu?” Dia bilang , ” Ya karena ini order besar, sekitar 20 order jadi satu. Kamu kan tau 2 order besar sebelumnya juga ga bisa lanjut. Berani taruhan gak? Order ini pasti gak bisa diproses.” Dalam hati aku kesal, karena dia bernubuat bahwa order tersebut akan gagal diproses. Bukan apa-apa, kalo order itu gagal proses, artinya akan tambah satu kerjaan aku lagi di saat aku sedang sibuk-sibuknya. Lalu aku berkata begini, “Order itu PASTI bisa diproses.” Aku teringat akan kuasa perkataan. Saat aku berkata perkataan itu entah dapat iman dari mana, tapi aku merasakan api iman bergejolak dan sekali aku berkata, “Coba aja, order itu PASTI bisa diproses.” Lalu aku berdiri meninggalkan kesibukan ku dan pergi ke mejanya dia. Lalu ia pun mencoba untuk memproses order tersebut. Hasilnya : order tersebut bisa diproses! Coincidence? No! Dia lalu tanya dengan agak kecewa, “Kenapa bisa yah?” Lalu aku bilang gini sambil tersenyum, “Kenapa? karena aku udah bilang bisa yah pasti bisa dilakukan.”

Di minggu yang sama, ada kejadian yang unik lagi. Saat itu seorang yang punya problem lagi menangani problem. Sebelum pengiriman bisa dilakukan, di sistem harus ada dua nomor : Nomor pengiriman dan nomor referensi. Nah, di saat itu nomor pengiriman sudah ada di sistem namun nomor referensi belum ada. Lalu ia melaporkan pada manger client aku. Sebetulnya memang aku tidak bisa melakukan apa-apa karena nomor referensi itu akan dihasilkan oleh komputer. Namun karena manager client aku tidak ingin pusing lalu ia berteriak dari belakang, “Paul, bisa tolong liatin order ini gak? Nomor referensi belon ada.” Aku bilang, “Ok.” Belum sempet aku cek, dan baru satu menit berlalu, sang manager teriak lagi, ” Paul, ga usah cek, udah ada nomornya. Hebat yah, baru panggil nama kamu suruh cek aja, langsung ada itu nomor referensi.” Mungkin ia bercanda saat itu, tapi percaya gak percaya, Tuhan beserta dengan kita! Tuhan menyertai aku. Kalo Tuhan ada di dalam aku dan aku di dalam Dia, tidak ada perkara yang mustahil bagi Dia! Amen.

Tuhan berkati mingu depan.

Respond to this post